jenis-pelumas
Pelumas padat
Pelumas padat bekerja dengan membentuk lapisan yang melekat pada permukaan yang saling bergesekan. Penerapannya dapat dilakukan secara mekanis, elektrokimia, atau gabungan keduanya. Daya lekat antara pelumas dan permukaan gesek biasanya ditandai oleh koefisien gesek tertentu.
Salah satu jenis pelumas padat yang paling umum adalah polimer. Bahan ini biasanya digunakan untuk beban ringan dan memiliki daya hantar panas yang rendah. Pelumas jenis ini juga cenderung tidak beracun, inert secara kimia, serta cocok dipakai di industri makanan dan farmasi. Contoh pelumas padat yang sering dijumpai adalah grafit dan molibdenum disulfida. Umumnya, pelumas ini tidak larut dalam air, tetapi tetap memiliki sifat mekanis yang baik untuk berbagai kebutuhan aplikasi.
Penggunaan pelumas padat terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi energi. Pemanfaatan bahan bakar fosil yang lebih hemat, pengembangan sumber energi alternatif, dan pengurangan konsumsi energi konvensional menjadi langkah penting untuk menjawab kebutuhan energi yang terus naik. Di sisi lain, sebagian besar energi masih terbuang akibat gesekan. Karena itu, pelumas padat dipandang sebagai salah satu solusi yang menjanjikan untuk membantu menekan pemborosan energi tersebut.
Oli
Oli dan gemuk dirancang untuk melumasi peralatan sekaligus mencegah kerusakan akibat kontak langsung antarlogam. Pada dasarnya, gemuk adalah oli yang dicampur dengan bahan pengental. Bahan pengental ini sangat berpengaruh terhadap kapasitas, kecocokan penggunaan, dan tingkat kekentalan gemuk. Semakin tinggi tingkat NLGI, biasanya gemuk akan semakin kental.
Oli mesin merupakan salah satu jenis pelumas yang paling banyak digunakan. Komposisinya umumnya terdiri atas dasar hidrokarbon minyak bumi berat yang ditambah berbagai aditif. Oli bekerja dengan melapisi komponen yang bergerak untuk mengurangi gesekan dan menjaga pelumasan tetap optimal. Oli berbahan dasar minyak bumi biasanya lebih murah, sedangkan oli sintetis cenderung lebih mahal tetapi menawarkan kinerja yang lebih baik. Perbedaan utamanya terletak pada viskositas, yang diukur melalui tingkat kekentalan kinematik.
Gemuk
Gemuk memiliki banyak kegunaan, terutama dalam lingkungan industri. Bahan ini dapat dipakai untuk melumasi berbagai komponen mesin, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada komposisinya. Karena itu, memilih jenis gemuk yang tepat menjadi hal yang penting. Gemuk juga dapat digunakan pada mesin pengolahan dan pengemasan makanan. Untuk keperluan tersebut, gemuk harus memenuhi standar aman pangan agar tidak menimbulkan risiko pada produk makanan. Warna gemuk sendiri tidak menentukan kemampuan pelumasannya, meskipun produsen kadang memakai kode warna untuk menandai tingkat atau jenis pelumasan tertentu.
Komponen utama gemuk terdiri atas oli sebagai pelumas cair dan bahan pengental, yang umumnya berupa sabun. Sifat alir gemuk dipengaruhi oleh kecepatan dan lamanya gaya geser bekerja. Gemuk termasuk fluida plastis, sehingga ketika mengalami deformasi pada beban tertentu, sifatnya dapat menyerupai cairan. Itulah sebabnya gemuk menjadi pilihan yang sangat umum untuk berbagai aplikasi permesinan.
Pelumas berbasis air
Dibandingkan pelumas berbasis minyak dan silikon yang dapat meninggalkan noda pada kain atau permukaan tertentu, pelumas berbasis air cenderung meninggalkan sisa yang sangat sedikit dan umumnya tidak memicu alergi. Karena relatif aman digunakan bersama kondom lateks dan perangkat berbahan silikon, pelumas ini sering dipilih oleh orang yang memiliki kulit sensitif. Pelumas berbasis air dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan pribadi.
Pelumas berbasis air mengandung bahan pengental alami yang larut dalam air. Karena itu, jenis ini paling cocok digunakan di lingkungan yang memang berkaitan dengan air. Selain itu, pelumas berbasis air juga tidak mudah terbakar, sehingga risiko terjadinya masalah tertentu bisa lebih rendah.
Faktor lain yang turut memengaruhi kecocokan pelumas dengan tubuh adalah osmolalitas. Cairan dengan osmolalitas lebih tinggi mengandung lebih banyak zat terlarut. Semakin tinggi osmolalitasnya, semakin besar pula kemungkinan munculnya gesekan dan iritasi. Gesekan ini pada akhirnya dapat meningkatkan risiko infeksi. Pelumas dengan osmolalitas tinggi juga bisa memicu peradangan, rasa gatal, dan sensasi terbakar.